Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 12 Februari 2010

Senin, 01 Februari 2010

semesta jasadiyah

Tubuh (jasad) manusia juga merupakan anugerah Allah yang besar. Potensi tersembunyi dalam tubuh sangat dahsyat dan luar biasa. Tapi banyak di antara kita yang tidak menyadarinya. Wajar, karena kita melihat tubuh luar kita sangat lemah dan rentan.

Kulit yang membungkus daging tubuh kita sangatlah tipis. Goresan sedikit saja bisa merobeknya. Kulit kita jelas berbeda dengan kulit buaya atau gajah yang sangat tebal. Kuku kita juga sangat lemah mudah terpotong dan terkelupas. Kuku kita juga jelas berbeda dengan kuku harimau atau kuku beruang yang sangat tajam dan kuat. Tatapan mata kita juga mungkin tidak setajam tatapan mata seekor elang. Indera penciuman kita juga mungkin tidak sekuat anjing. Kekuatan pukulan dan cengkeraman tangan kita mungkin tidak sehebat pukulan gorila. Tendangan kaki kita juga mungkin tidak sekuat tendangan gajah. Lompatan kita pun mungkin tidak setinggi kucing yang mampu melompat dengan ketinggian berlipat-lipat dari tinggi tubuhnya. Kecepatan lari kita juga mungkin tidak secepat cheetah yang bisa berlari dengan kecepatan 110 km/jam. Tubuh kita juga mungkin tidak selincah kera. Kita juga mungkin tidak bisa meloncat sejauh kanguru. Mungkin kita juga tidak bisa memanjat dinding dengan merayap seperti seekor laba-laba. Mungkin kita juga tidak bisa terbang seperti burung rajawali. Kekuatan kita juga mungkin tidak seperti kekuatan banteng yang bisa menjungkirbalikkan manusia seenaknya dengan serudukan kedua tanduknya. Dan mungkin tubuh kita juga tidak seindah burung merak.

Tapi ketahuilah, bahwa semua ketidakmungkinan itu bisa menjadi kemungkinan, karena potensi tubuh kita menyimpannya. Allah telah Menciptakan tubuh kita dengan keadaan paling sempurna. Tubuh kita menyimpan seluruh potensi fisik hewan-hewan tadi.

Sesungguhnya kekuatan kulit kita bisa sekuat buaya atau gajah. Kulit kita bisa tidak mudah tersayat dan robek. Kita bisa lihat contoh para pendekar shaolin yang kulitnya tidak terluka ketika ditusuk dengan tombak dan disabet dengan golok berkat latihan yang lama, tidak instan dan tidak menggunakan tenaga jin-alam ghaib yang berpotensi syirik.

Cakaran kita bisa sekuat cakaran harimau dan beruang. Jika dilatih dengan tekun, cakaran kita bisa meremukkan tulang. Kita juga bisa memanjat dinding dengan merayap seperti laba-laba dengan kekuatan cengkeraman kita yang sudah terlatih.

Tatapan mata kita juga bisa setajam elang. Penciuman kita juga bisa sesensitif anjing.

Pukulan kita juga bisa sekuat gorila bahkan mungkin lebih. Kekuatan tendangan kaki kita juga bisa sekuat tendangan gajah. Kekuatan kita juga bisa sekuat banteng, bahkan lebih, karena pernah ada orang yang menjatuhkan banteng dengan sekali pukulan tangan. Ada juga orang yang bisa menghancurkan atau mematahkan batu kali dengan satu kali tusukan jari dan sabetan tangannya. Ada orang yang bisa meremukkan kepala manusia dengan tamparan telapak tangannya semudah memecahkan telur mentah.

Kita pun bisa melompat tinggi seperti kucing. Kita juga bisa meloncat jauh seperti kanguru. Kita juga bisa terbang meskipun tidak benar-benar terbang seperti rajawali. Gerakan kita juga bisa selincah dan segesit kera. Ada orang yang bisa melayangkan 5 kali tendangan di udara dengan satu lompatan tanpa mendarat. Ada orang yang bisa meloncati belasan bahkan puluhan orang yang berbaris memanjang. Ada orang yang bisa ”terbang” dengan berlari di dinding dengan sudut kemiringan 90 derajat.

Kita juga bisa berlari dengan kecepatan tinggi meskipun tidak bisa menyamai kecepatan lari cheetah.

Kita juga bisa jauh lebih indah dari burung merak atau cenderawasih dengan bentuk tubuh kita yang atletis dilengkapi dengan keindahan pakaian.

Semuanya itu bukanlah hal yang mustahil. Semua kemungkinan tadi bisa diraih dengan murni latihan fisik, tidak menggunakan kekuatan mistis yang syirik. Dalam tubuh kita ada yang disebut dengan energi vital (chi) atau inner power yang tersembunyi. Energi ini sangat besar potensinya. Jika kita mau mengolah dan melatihnya, maka ia akan memiliki manfaat yang luar biasa. Jika kita tidak mengolahnya pun, energi ini akan muncul pada saat-saat yang ”darurat” dan ”mendesak”. Ada seorang ibu yang terdesak karena anak kecilnya terjebak di bawah himpitan mobil yang terbalik. Kemudian ibu itu mengangkat mobil hanya dengan kedua tangannya. Subhanallah. Mobil itu terangkat dan anaknya selamat, padahal mobil itu baru bisa diangkat oleh 4-5 orang atlet angkat besi (lifter). Atau kita juga bisa berlari dengan sangat kencang ketika dikejar anjing atau penjahat. Kita juga bisa melompati atau memanjat dinding karena dikejar harimau. Energi vital ini juga akan ”keluar” ketika kita sedang berpuasa sebagai ganti asupan energi dari makanan dan minuman yang berkurang. Di sinilah rahasianya mengapa Rasulullah dan umat Islam berhasil memenangkan Perang Badar pada bulan Ramadhan.

Dengan segala potensi dan kemungkinan-kemungkinan kita di atas, kita harus melatihnya. Potensi-potensi jasadi ini adalah ni’mat Allah yang bila tidak disyukuri dengan cara melatihnya, maka bisa jadi Allah akan ”Mengambilnya”. Maka, latihlah kekuatan, kelincahan, sensitivitas, dan kegesitan kita. Allahu Musta’an.

Perjalanan Kehidupan

Kehidupan seorang anak manusia adalah suatu perjalanan yang senantiasa dihadang oleh berbagai pilihan: terus maju, diam di tempat atau malah mundur ke belakang. Kebahagiaan hidup adalah dengan melalui jalan yang penuh bertabur “bunga-bunga keabadian” di kanan-kirinya. Kemudian meninggalkan jalan yang telah dilaluinya menuju jalan lain yang telah menunggu terbentang di depan sana.

Inilah filosofi tarbiyyah. Kehidupan dunia akan terus berjalan seiring dengan berjalannya usia umat manusia dan semakin berevolusinya, secara materi, peradaban dunia. Pergolakan antara pengusung panji-panji kebenaran (tarbeeya; al bina’)dengan pengusung panji-panji kebathilan (untarbeeya; al hadm) adalah suatu hal yang abadi yang senantiasa menjiwai setiap perjalanan dunia. Bergolak, dunia terus bergerak! Manusia-manusia penghuni dunia pun akan senantiasa dihadapi oleh berbagai pilihan. Hanya ada dua pilihan; tidak ada pilihan lain : menjadi subjek penggerak atau menjadi objek yang digerakkan. Pilihan menjadi subjek penggerak adalah pilihan kebahagiaan, sama seperti pilihan untuk terus melalui jalan. Menjadi subjek penggerak membutuhkan implementasi sebagai konsekuensi logis dari idealismenya. Ia adalah jiwa yang berkata-kata. Ia adalah jiwa yang senantiasa berpikir dan merenung. Ia adalah jiwa yang senantiasa bergolak dalam segala gerak-geriknya. Ia adalah jiwa pembebas dan pemberontak. Karena memang ia dilahirkan dan dikeluarkan (QS 3:110,..ukhrijat..) kepada umat manusia untuk menjadi penggerak.

Ia tidak berdiam diri dengan segala keterbatasannya. Ia sangat yakin bahwa Rabbnya telah menganugerahkan potensi-potensi tersembunyi luar biasa dalam dirinya. Ia akan menjadi mulia dengan pemanfaatan potensi-potensi itu untuk kebenaran. Ia senantiasa bergerak dengan perbaikan diri. Ia ingin memunculkan segala potensinya yang terpendam di dalam ruang yang terkunci. Ia hanya bisa membukanya dengan kunci yang tepat. Kunci itulah tarbiyah. Yang akan senantiasa menjadikannya terus tumbuh bergerak menjadi baik dan terus menjadi baik. Sampai nanti ketika tiba saatnya ia menghadap Rabbnya; ia berada dalam keadaan terbaik (husnul khatimah) dari seluruh perjalanan hidupnya. Dan inilah tarbiyah itu!

Seorang penggerak adalah bagaikan penyeberang jalan atau orang asing yang sedang melintasi jalan. Tidak lama diam di tempat. Ia akan terus bergerak dengan cepat. Tingkat mobilitasnya tinggi. Ia senantiasa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Seolah-olah ia tidak betah dengan tempatnya berdiri; tidak betah dengan dunia ini. Ia akan terus bergerak, terus bergolak, terus maju sampai ia dapatkan apa yang jadi tujuan tertingginya. Ia sadar betul ada jalan-jalan pintas (the highway) yang bisa dilaluinya. Selain itu ada juga jalan sangat pintas (the super highway) untuk sampai di tujuan tertingginya. Kisah seorang syaikh Nusantara di Saudi Arabia yang bermimpi melihat sejumlah pasukan pemuda yang berkuda tak terlalu digubrisnya.[1]

Ya, para penggerak itu adalah para pengibar panji di bukit yang tinggi menjulang. Yang perkasa, yang tidak mudah takluk dengan ancaman dan cemoohan. Yang berani terus menerobos jalan yang penuh dengan tantangan yang sebetulnya adalah “bunga-bunga keabadian”. Mereka adalah bintang. Tapi, mereka bukan bintang yang tenggelam di samudera yang luas. Mereka juga bukan seperti manusia yang tenggelam terhempas oleh gelombang samudera yang dahsyat. Mereka pun bukan seperti manusia yang hanya mau digerakkan oleh kebathilan dunia. Mereka juga bukan seperti manusia yang berdiam diri di tempat karena ragu dan bimbang. Melainkan, ia adalah seperti manusia yang tajam menatap “masa depan”; tegar menghadapi dahsyatnya gelombang; yang bergejolak jiwanya ketika secercah cahaya kemilau di depan sana memanggilnya. Ya, ia akan terus melaju menggapai secercah cahaya kemilau itu. Meninggalkan manusia yang hanya bisa menatapnya pergi karena terombang-ambing di keluasan samudera. Ia pergi melaju dengan bahtera, menaklukkan luasnya bentangan samudera. Hingga hanya horizon yang tampak di kejauhan sana. Ia tak tampak lagi oleh pandangan mata, karena ia adalah “Bintang yang Tenggelam di Bahtera”.

1 Terbetik kisah seorang syaikh Indonesia pada masa Pemilu 1999 lalu. Syaikh tersebut sedang berada di Saudi Arabia. Kampanye partai politik pun juga digelar di tanah suci itu. Hampir semua parpol Islam sudah “melamar” syaikh tersebut untuk turut bergabung, kecuali satu partai yang belum. Para utusan parpol itu mendistribusikan brosur-brosur. Tapi jawab syaikh tadi selalu “Saya mau istikharah dulu.” Setelah beberapa saat kemudian, syaikh tadi bermimpi. Dalam mimpinya, beliau memasuki sebuah restauran dan memesan makanan. Tapi, beliau langsung muak dan segera meninggalkan restauran tersebut setelah tahu apa yang dihidangkan. Ketika syaikh tersebut keluar dari restauran, beliau menyaksikan sepasukan pemuda berkuda di kejauhan. Ketika pasukan berhenti di sebuah kaki bukit, seorang pemuda dari mereka berlari ke atas bukit sambil membawa sebuah panji besar. Sesampainya di atas bukit ditancapkanlah panji besar itu dan berkibarmegahlah ia. Dari panji itu terlihat jelas sinar kemilau keemasan; dua buah bulan sabit saling membelakangi yang dipisahkan oleh sebuah garis lurus di tengahnya! Setelah beberapa hari kemudian, syaikh tadi melihat salah satu parpol Islam : “Lambang parpol itu mirip dengan lambang panji yang kulihat dalam mimpiku” kata beliau. Maka, yakinlah beliau bahwa parpol inilah yang seharusnya beliau pilih dan dukung (bersama para pengikutnya)!

Pahlawan

Kata pahlawan dimiliki oleh peradaban-peradaban dunia. Dalam Islam, menurut penulis, konsep kepahlawanan muslim dapat disamakan dengan konsep khalifah. Khalifah secara etimologis mengandung arti “pengganti”. Seorang manusia ketika disematkan pada dirinya status khalifah, maka ia memiliki substansi “pengganti”. Ia adalah pengganti / wakil Sang Pencipta di muka bumi. Substansi pengganti inilah yang mengharuskan ia merepresentasikan Apa dan Siapa yang diwakilinya, yaitu Allah Sang Pencipta. Jika Allah menghendaki manusia memiliki amanah beribadah (Adz Dzariyyat : 56), khalifatu fil ardhi (Al Baqarah : 30) dan sang pemakmur bumi (Hud : 61), maka seorang pahlawan muslim memiliki konsekuensi logis untuk merepresentasikan dan mengimplementasikan ketiga amanah dari Allah ini.

Pahlawan di sini mengartikan bahwa ia adalah manusia secara individu / personal dan kolektif. Pahlawan secara individu mengandung arti bahwa ia, minimal, bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Hal ini karena “Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya”, dan juga karena dirinya baik fisik, akal dan roh merupakan amanah dari Sang Pencipta dan yang pada hakikatnya adalah Pemilik dirinya. Maka, akan lahir pahlawan-pahlawan dalam diri tiap individu manusia.

Sedangkan pahlawan secara kolektif menghendaki adanya seorang pahlawan yang akan memimpin pahlawan-pahlawan individu tadi. Di sini terkandung arti bahwa dalam mengarungi perjalanan kehidupan manusia, ia tidak bisa melaluinya sendiri. Ia membutuhkan teman, membutuhkan orang lain. Dalam kumpulan bersama-sama orang lain itulah mereka membutuhkan seorang pahlawan dalam konteks institusional (kelembagaan). Di sinilah manusia, secara individu maupun kolektif, dituntut untuk dapat mengimplementasikan potensi kepahlawanan dan kepemimpinan dalam semua ranah (sektor); individu dalam ranah private dan kolektif dalam ranah public . Amanah manusia itu akan dapat terlaksana secara integral dan optimal bila dilakukan dalam konteks kolektifnya; banyak hal yang tidak dapat dilakukan sendiri. Dan lebih banyak lagi hal yang akan menjadi dahsyat jika dilakukan secara bersama-sama (jama’ah).

Kemudian jika kita runut sejarah peradaban manusia, maka akan kita dapatkan realitas kepahlawanan ini, baik secara individu (private) maupun kolektif (public). Akan kita temukan ibrah bahwa manusia ada yang berhasil menjadi pahlawan, ada juga yang gagal. Pahlawan melambangkan pengusung panji-panji kebenaran (Al Haq). Sebaliknya, yang bukan pahlawan melambangkan pengusung panji-panji kebathilan (Al Bathil). Kita akan lihat bagaimana Nabi Adam dan Siti Hawa “dihukum” untuk keluar dari surga dan menetap di bumi yang kemudian beribadah di dalamnya dan memakmurkannya. Kita juga dapat melihat fenomena pembunuhan Habil oleh Qabil saudaranya sendiri. Ini adalah pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia. Kita juga melihat kesudahan kaum ‘Aad (umat Nabi Hud) yang diadzab dengan angin ribut, kaum Tsamud (umat Nabi Shalih), kaum Sodom (umat Nabi Luth) yang diadzab dengan hujan batu dan ditenggelamkan ke perut bumi, kaum Nuh yang diadzab dengan banjir besar, kaum Nabi Syu’aib (penduduk kota Madyan dan Aikah) yang diadzab dengan gempa dan pada hari yang dinaungi awan (ayyamu azh zhullah). Semuanya ini adalah karena kaum-kaum itu “menolak” atau “enggan” memenuhi seruan nabi-nabi mereka untuk beribadah hanya kepada Allah dan menjadi pahlawan. Kemudian kita juga paham sekali kisah perlawanan Al Haq dengan Al Bathil antara keberanian seorang Ibrahim melawan keangkuhan Namrudz; tekad membara Nabi Musa yang melawan tirani Fir’aun untuk membebaskan kaumnya bani Israil dari penindasan; kemudian Nabi ‘Isa yang juga mendapat perlawanan dari kaumnya sendiri. Kita juga mendengar kisah tentang Dzul Qarnain dan juga Ashhabul Kahfi yang tidak menyerah kepada thaghut dan Thalut yang memimpin kaumnya bani Isra’il melawan keangkaramurkaan hegemoni Jalut..

Ya. Nabi Adam, Habil, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Luth, Nabi Nuh, Nabi Syu’aib, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi ‘Isa, Dzul Qarnain, Ashhabul Kahfi dan Thalut itulah Sang Pahlawan. Dan juga Sang Pahlawan itu adalah Rasulullah SAW, Abu Bakar yang bijak, Umar ibn al Khaththab yang tergas dan pemberani, Utsman ibn Affan yang pemalu, ‘Ali ibn Thalib seorang pemuda yang cerdas. Pahlawan itu juga adalah Mush’ab ibn Umair sang duta, Salman al Farisi sang pencari kebenaran, Abu ‘Ubaidah ibnu Jarrah sang kepercayaan umat, Abu Dzar sang zuhud, Bilal sang m[1]u’adzin, Mu’adz ibn Jabal sang cendekiawan. Sang Pahlawan itu juga adalah Sa’ad ibn Abi Waqqash sang ‘singa yang menyembunyikan kukunya’, Hamzah ‘sang singa Allah’ dan ‘panglima para syuhada’, Khalid ibn Walid sang ‘pedang Allah yang terhunus’, ‘Amr ibn Ash sang pembebas Mesir dari cengkeraman Romawi.

Dan sang pahlawan itu adalah Umar ibn Abdul Aziz (perempat awal abad VIII M), khalifah ke-8 dari 14 khalifah-khalifah Dinasti Banu Umayyah (Omayya Imperium) yang dianggap sebagai khulafaur rasyidin ke-5 karena beliau berhasil menjadikan umat pada masanya seberkualitas pada masa Khalifah Rasyidah. Dan sang khalifah itu adalah Harun Al Rasyid (akhir abad VIII M), khalifah yang pada masanya Dinasti Banu Abbasiyyah (Abbasid Imperium) berada pada masa keemasannya. Sang pahlawan itu juga adalah Muhammad al Fatih II (abad XVI M) yang mampu memimpin umat Islam menaklukan Konstantinopel untuk membuktikan sinyalemen masa depan Rasulullah, setelah sebelumnya umat Islam delapan kali gagal menaklukkannya. Sang pahlawan itu adalah juga seorang Shalahudin al Ayyubi (abad XII M) yang dengan kepemimpinannya umat Islam berhasil memukul mundur musuh dalam Perang Salib.

Sang pahlawan itu juga adalah Imam al Ghazali (abad XI M) yang menentang kesesatan dan penyimpangan pemikiran-pemikiran pada zamannya; Ibnul Jauzi (abad XII M) seorang ulama besar; Ibnu Taimiyyah (abad XIV M) sang pemberantas bid’ah dan khurafat pada masanya; Ibnul Qayyim al Jauziyyah (abad XIV M) sang murid Ibnu Taimiyyah yang memiliki keluasan dan kedalaman berbagai disiplin ilmu. Para khalifah itu adalah Imam Nawawi (pengarang Riyadhushshalihin sekaligus penghimpun 42 Hadits Prinsip), Imam Malik (pengarang Al Muwaththa’), Imam Syafi’I (terkenal dengan Qaul Qadim dan Qaul Jadid), Imam Ahmad (penentang pernyataan Khalifah al Ma’mun bahwa al Quran itu makhluk), Imam Abu Hanifah (“Bapak Ahlurra’yu” dalam sejarah ilmu hadits), Imam Syathibi (pengarang Al Muwafaqat, kitab fenomenal dan monumental di bidang Ushul Fiqh).

Para pahlawan itu juga adalah Muhammad Rasyid Ridha, Jamaluddin al Afghani dan Syekh Muhammad ‘Abduh yang menjadi pelopor revivalisasi (pencerahan pemikiran dan penghidupan kembali Dunia Islam). Dan para pahlawan itu adalah Syaikh Abdullah ‘Azzam (mujahid Afghan), Syaikh Abdul Wahab pendiri gerakan salafi (ta’shil / orisinalisasi ajaran Islam), Hasan al Banna sang pelopor metode (manhaj) kebangkitan Islam sekaligus penggerak langsung harakah besar dan fenomenal Al Ikhwan al Muslimun, Musthafa as Siba’I motor gerakan Ikhwanul Muslimin di Suriah, Syaikh Taqiyuddin an Nabhani pendiri Hizbut Tahrir (Partai Pembebasan) di Jordan, Syaikh Ahmad Yasin dengan HAMAS di Palestina, Abul A’la al Maududi pendiri Jama’at el Islami di Pakistan, Syaikh Muhammad al Kandahlawi pendiri Jama’ah Tabligh di India. Dan para pahlawan itu adalah Sayyid Quthb pengarang Fi Zhilalil Quran, Yusuf al Qaradhawy pengarang buku yang sangat monumental Fiqh Zakat, Sa’id Hawwa seorang tokoh tarbiyyah ruhiyyah, Fathi Yakan seorang intelektual da’iyyah.

Tapi itu dahulu. Bagaimana dengan sekarang? Apakah tidak ada lagi pahlawan-pahlawan seperti mereka? Apakah perut bumi ini tidak lagi mampu mengeluarkan para pahlawan di atas permukaannya? Apakah rahim para ibu telah mandul melahirkan para pahlawan? Bukan! Bukan ini seharusnya yang ditanyakan! Pertanyaan yang seharusnya adalah ‘Apakah tidak ada lagi manusia-manusia di bumi ini yang ingin dan berani menjawab tantangan menjadi pahlawan !?’ Tidak ada lagikah “Sang Pahlawan” yang membebaskan dirinya, keluarganya, masyarakatnya dan negerinya dari cengkeraman penindasan thaghut dan tirani di setiap lorong peradaban? Ada, pasti ada. Tapi kita tidak tahu, apakah kita termasuk di dalamnya? Kitakah manusia yang ingin dan berani menjawab tantangan menjadi “Sang Pahlawan” itu? Kitakah yang tidak hanya menganggapnya sebagai slogan belaka? Jika jawabannya ‘tidak’, maka lekas buanglah tulisan ini dan tutuplah lembar sejarah kehidupan kita! Tutuplah catatan sejarah kepahlawanan kita! Tapi jika jawabannya ‘ya’, mungkin juga karena tidak ada lagi manusia-manusia dunia yang bertekad menjadi “Sang Pahlawan”, maka berkatalah pada diri kita sendiri : ‘Akulah “Sang Pahlawan” itu!!!’ Maka, bertekadlah untuk menggapai “Sang Pahlawan”. Dan untuk menjadi “Sang Pahlawan” tidak perlu menanti berdirinya Al Khilafah; tidak perlu menanti tegaknya Asy Syari’ah; tidak perlu menanti datangnya Sang Mesiah! Tapi, jadilah “Sang Pahlawan” mulai saat ini! Dan mulailah dari sini! Karena pahlawan seharusnya ada dalam diri kita, ada dalam keluarga kita, ada dalam masyarakat kita, ada pada negeri kita, dan ada pada peradaban kita! Peradaban yang agung, yang tunduk patuh pada titah Sang Pencipta. Peradaban yang menggetarkan, yang melawan segala bentuk thaghut dan tiran! Peradaban yang seharusnya dahsyat, karena kita para “Sang Pahlawan” itu berada di dalamnya, yang bergelut untuk mencapainya, yang bersumpah setia untuk memperjuangkannya, yang bertekad untuk hidup dan mati dalam rengkuhannya, yang paling berobsesi untuk memandang Wajah Sang Rabb tercinta dan yang yakin akan jalan ini., jalan yang ada karena optimistis akan janji kemenangan dan kejayaan! Wahai “Sang Pahlawan”!…Lantangkan! Serukan dan gemakanlah pada dunia bahwa bumi Barat dan bumi Timur adalah milik Islam, Al Quds-Al Aqsha & Romawi akan terbebaskan, dan Peradaban Rasyidah akan kembali tergelarkan!!

Sejarah

assalaamu’alaikum wr. wb.

Ketika Bung Karno menyeru rakyat Indonesia untuk tidak mengabaikan sejarah bangsanya, maka seruan itu sudah pasti bisa dibenarkan. Akan tetapi, Bung Karno pun telah melupakan sejarah karena telah memilih jalan sekularisme, bahkan bergandengan tangan dengan komunisme. Pasalnya, seruan jihad dari para ulama-lah yang telah mengobarkan perlawanan mengusir penjajah di negeri ini, bukan semangat memisahkan agama dari kehidupan sosial ala sekularisme, apalagi semangat membunuh Tuhan ala PKI. Ketika revolusi fisik terjadi, nama Allah-lah yang diteriakkan. Tak ada yang sekuler ketika mempertaruhkan jiwa di medan jihad.

Sejarah pun bisa dipermainkan sedemikian rupa. Banyak yang tahu bahwa Jendral Soedirman adalah seorang panglima gagah berani, tapi tak banyak yang mengatakan sejujurnya bahwa beliau adalah seorang ulama. Pangeran Diponegoro pun dituduh sebagai tokoh bangsawan yang mengobarkan perang melawan Belanda karena tanah leluhurnya dirampas. Sejak jauh-jauh hari Buya Hamka sudah mengingatkan sebuah fakta yang sangat mencolok: di saat keluarga keraton semua mengenakan pakaian adat Jawa, Pangeran Diponegoro tak pernah digambarkan dengan kostum selain jubah dan sorban. Beliau adalah pahlawan penegak syariat Islam di tanah Jawa, bukannya bangsawan congkak yang berjuang membela aset pribadinya saja, apalagi tokoh mistis sakti mandraguna sebagaimana yang dikesankan oleh beberapa pihak.

Dari sinilah munculnya ungkapan sinis yang mengatakan bahwa sejarah adalah milik pemenang. Di masa Orde Baru, Bung Karno adalah proklamator merangkap perusak negara. Ketika Orde Baru digulingkan, dan Megawati naik ke kursi RI-2 (dan kemudian RI-1), keadaan segera berbalik. Segala hal tentang Soeharto dianggap tercela. Kini, sejarah sudah memiliki banyak wajah. Kita bisa menemukan buku yang memuji Soeharto semudah kita menemukan buku yang mencelanya. Hal yang sama berlaku pada Bung Karno.

Sejarah dan Pengkultusan
Begitu kuatnya tertanam tradisi pengkultusan, hingga kini pun bangsa Indonesia masih berupaya keras untuk melepaskan diri darinya. Dalam pandangan feodal, orang yang dipandang mulia memang sangat wajar untuk dimuliakan sedemikian rupa, hingga segala sesuatu yang menyangkut dirinya pun dimuliakan.

Apresiasi sejarah memang cenderung berkaitan dengan pengkultusan. Jika ada sebuah fenomena bersejarah, maka pelakunya dikeramatkan, tanggal kejadiannya dikeramatkan, dan tempat kejadiannya pun dikeramatkan. Pelaku dikeramatkan dengan menyanjung-nyanjung namanya, menghias kuburannya, termasuk juga mengarang-ngarang cerita mistis tentang dirinya. Tanggal kejadian dikeramatkan dengan menjadikannya hari raya yang wajib diingat-ingat oleh generasi muda. Adapun tempat kejadian dikeramatkan dengan menjadikannya sebagai museum, membangun tugu atau patung di atasnya, dan sebagainya.

Tentu kita bisa menarik garis yang jelas untuk membedakan antara pencatatan sejarah yang wajar dengan pengkultusan. Tidak ada salahnya mengingat-ingat nama pelaku sejarah, asal tidak mengada-ada. Tidak ada salahnya juga memperingati tanggal kejadian dan menziarahi tempat kejadian, selama hal itu membawa kita pada suatu hikmah. Patut kita bertanya: apakah anak-anak kita diajarkan untuk menarik hikmah dari setiap peristiwa sejarah yang dihapalkannya? Ataukah hanya sekedar nama, tanggal dan tempat?

Islamisasi Sejarah
Sungguh mengherankan betapa kita jarang menarik makna “sejarah” dari kata asalnya dalam bahasa arab, yaitu "syajarah", yang berarti "pohon". Sejarah adalah sebuah "pohon”, yang memiliki akar, batang yang bercabang-cabang membentuk dahan dan ranting, daun, dan buah.

Dalam pandangan Islam, sejarah adalah sebuah catatan besar perjalanan peradaban manusia yang menghubungkan antara manusia pertama dengan yang terakhir nanti. Antara Nabi ‘Adam as. dan kita memiliki hubungan yang jelas, sebagaimana sebuah dahan pohon terhubung dengan akarnya. Sejarah-lah yang membuat kita tidak perlu belajar dari nol lagi, karena kita bisa memanfaatkan pengalaman orang-orang terdahulu. Umat manusia adalah sebuah keluarga besar, sebagaimana yang dikehendaki oleh ajaran Islam itu sendiri.

Bagi seorang Muslim, mencari nama asli dari Fir'aun yang ditenggelamkan dengan mukjizat Nabi Musa as., atau menentukan tanggal dan tempat kejadian itu adalah prioritas belakangan. Yang paling penting adalah menarik hikmah dari kejadian itu. Sejarah membuktikan bahwa sifat-sifat Fir'aun bisa ditemukan di masa kini. Tengoklah kaum Zionis yang menangkapi dan membunuh anak-anak Palestina, karena khawatir mereka akan tumbuh menjadi mujahid yang akan mengusir mereka. Lihatlah bagaimana warga Muslim dijadikan warga kelas dua di mana-mana, persis seperti masa di jaman Fir’aun. Nama, tanggal dan tempat boleh berganti, tapi toh tabiat manusia tetap sama.

Di sisi lain, pendapat ini pun mendapat tantangan. Sebagian orang tak suka menerima kenyataan bahwa manusia memiliki tabiat yang serupa sejak dahulu. Itulah sebabnya syariat berjilbab mereka cemooh sebagai tradisi yang hanya cocok untuk penghuni padang pasir yang masih terbelakang dan belum mampu menghargai perempuan. Mereka juga bilang bahwa shalat dan dzikir adalah syariat yang diperuntukkan bagi mereka yang imannya belum kuat; mereka sendiri mengaku sudah mampu berhubungan terus-menerus dengan Allah, sehingga tak perlu lagi shalat. 

Sejarah itu sendirilah yang telah membuktikan kesalahan pendapat ini. Tidak ada lagi dosa yang benar-benar orisinil. Pembunuhan sudah ada sejak dulu, perzinaan sudah marak sejak dulu, dan homoseksual pun sudah berjangkit sejak dulu. Kerusakan yang ditimbulkannya, baik dulu maupun sekarang, tetap sama saja. Kerusakan akibat mabuk-mabukan, baik di tengah kota New York maupun di pedalaman Papua, nyaris tak ada bedanya. Perzinaan, baik yang terjadi di lokalisasi maupun di lembaga Kepausan sama saja tercelanya.

Sejarah adalah pohon peradaban umat manusia. Kalau bukan hikmah, apa lagi yang kita ambil darinya?